Miris, Isu Lingkungan Masih Terabaikan


Miris, Isu Lingkungan Masih Terabaikan
Oleh Oktaviani

Isu politik dan pendidikan  masih menjadi topik yang hangat untuk diperbincangkan. Hampir setiap hari baik di media cetak maupun elektronik mengupas habis masalah ini. Begitu pula dengan pemerintah yang lebih banyak memberikan perhatian pada kedua masalah tersebut, Namun jika kita mencermati keadaan di negara ini ada satu masalah yang sedikit terabaikan yaitu masalah lingkungan.
Sebenarnya masalah lingkungan merupakan salah satu isu yang paling penting. Mengapa demikian? Manusia yang sehat itu hidup di lingkungan yang sehat pula, jadi jika lingkungannya buruk maka kualitas manusianyapun tidak akan berbeda jauh dengan keadaan lingkungannya. Selain itu salah satu goal  MDGs adalah keberlanjutan lingkungan, berhubungan dengan lingkungan hidup yaitu memastikan kelestarian lingkungan hidup. Namun kenyataannya masalah lingkungan belum dikelola secara optimal. Bisa dilihat di APBN dari tahun ke tahun bahwa anggaran untuk pengelolaan lingkungan masih kecil.
Sebagai contoh masalah pengelolaan sampah di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebenarnya pemerintah daerah telah menyusun kebijakan sedemikian apiknya untuk mengelola lingkungan namun lagi-lagi implementasi kebijakan pengelolaan lingkungan masih kurang optimal karena terbentur masalah biaya. Anggaran yang masih terhitung kecil tidak bisa memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk mengelola lingkungan khususnya masalah sampah.
Hanya ada satu tempat pembuangan akhir (TPA)  sampah  di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu di Kecamatan Piyungan Kabupaten Bantul yang digunakan oleh tiga kabupaten yakni Kotamadya Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul. Setiap hari TPA tersebut  menampung sampah  dari Kartamantul, dan dikhawatirkan TPA tidak bisa menampung sampah lagi karena terbatasnya tempat. Sampah paling banyak berasal dari kota Yogyakarta, karena disanalah kawasan paling padat penduduk dan tingkat konsumtif masyarakat yang sangat tinggi.
Masalah sampah memang sulit diselesaikan. Apalagi sekarang masyarakat Indonesia sangat bergantung dengan produk-produk instan berbungkus plastik. Plastik adalah bahan yang sangat sulit untuk terurai butuh waktu bertahun-tahun agar plastik dapat terurai sempurna. Biasanya masyarakat kita mengolah sampah plastik hanya dengan mengubunya di dalam tanah atau membakarnya. Namun kedua cara itu bukan cara yang tepat untuk mengolah sampah plastik. Apabila sampah plastik dikubur dalam tanah, hal itu membutuhkan waktu yang sangat lama untuk membusuk. Dan apabila sampah plastik dibakar, hal itu akan menimbulkan masalah lainnya yaitu polusi udara. Akhir-akhir ini sedang marak kampanye “daur ulang sampah plastik” menjadi barang-barang yang bisa digunakan kembali. Seperti misalnya tas belanja yang dibuat dari sampah plastik bungkus detergen, aneka hiasan bunga dari sampah plastic seperti sedotan dan lain sebagainya. Di berbagai daerah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat tempat-tempat pendaurulangan sampah dan bank sampah sebagai  usaha mengolah sampah agar menjadi barang yang bernilai jual dan bermanfaat.
Pendaurulangan sampah merupakan langkah yang baik dan kreatif namun hal ini bukan jalan yang paling tepat untuk menangani masalah sampah . Karena hal itu hanya memperpanjang usia sampah dan menunda sampah untuk masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA), yang akhirnya nanti sampah tetap akan masuk ke TPA.
            Solusi yang paling tepat untuk menangani masalah sampah adalah menyelesainkannya dari hulu ke hilir. Maksudnya adalah pemerintah harus mengatasi masalah sampah dari  sumbernya bukan hanya  fokus pada pengelolaan sampahnya. Pemerintah harus lebih giat dalam memberikan penyuluhan kepada masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan barang-barang yang sifatnya susah terurai seperti plastik. Memang sulit merubah kebiasaan masyarakat yang lebih gemar menggunakan produk-produk dari bahan plastik. Namun hal ini sangat perlu dilakukan demi tercapainya lingkungan yang sehat. Dengan berkurangnya sampah plastik maka TPA tidak akan kuwalahan dalam menampung sampah lagi.
            Kita bisa mengawali kebiasaan baru dengan  mengurangi penggunaan kantong kresek saat berbelanja, membawa kantong sendiri ketika berbelanja dan menolak kantong plastik pemberian si penjual. Langkah sederhana namun sangat membantu mengatasi masalah lingkungan.
 Jangan sepenuhnya menyalahkan pemerintah yang kurang cekatan menyelesaikan masalah sampah. Karena yang menimbulkan masalah lingkungan juga masyarakat itu sendiri. Sebagai warga negara yang  baik kita harus ikut berpartisipasi membangun lingkungan yang bersih dan sehat. Mengubah kebiasaan yang buruk menjadi kebiasaan yang lebih bijak. Semoga bermanfaat.
           

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebijakan Pembentukan Pasar Ambarketawang

kos A36