@Harian Jogja Edisi 4 Februari 2013 | Jagongan | Gepeng Makin Menjamur


Gepeng Makin Menjamur
Oleh : Oktaviani
                                               
Gelandangan dan pengemis atau yang sering disebut dengan istilah gepeng kini makin menjamur di mana-mana. Tidak hanya di kawasan jalan raya namun sampai ke perumahan kota bahkan pemukiman di pedesaan. Gelandangan dan pengemis yang terdiri dari anak-anak, remaja sampai dengan lansia semakin meresahkan masyarakat, karena tidak jarang yang “memaksa” ketika meminta uang.
Yogyakarta kota yang padat, sebagai kota pelajar dan kota tujuan wisata budaya sehingga secara tidak langsung menjadi daya tarik tersendiri bagi pengemis untuk mencari penghasilan. Pada musim liburan, banyak pengemis dan gelandangan yang datang ke Yogyakarta untuk mencari uang. Kebanyakan gepeng adalah berasal dari luar Yogyakarta.
Masalah kemiskinan, rendahnya pendidikan, rendahnya keterampilan, terbatasnya lapangan kerja dan sifat pemalas menjadi faktor penyebab orang memilih menjadi pengemis. Permasalahan gepeng masih menjadi masalah yang sulit diatasi di Yogyakarta, untuk itu peran pemerintah dan masyarakat untuk menanggulangi permasalahan ini tentunya harus dilakukan secara bersama-sama. Namun ada masyarakat yang masih memberi uang kepada para pengemis, seperti yang sering kita lihat di perempatan jalan maupun di emperan toko Malioboro karena alasan iba. Padahal pemerintah telah memasang himbauan di pinggir jalan yang melarang pemberian uang kepada pengemis dan dianjurkan untuk memberikan kepada lembaga sosial. Sebaiknya masyarakat bisa bekerja sama dan mau memberikan bantuan ke lembaga sosial dan keagamaan bukan kepada gepeng di jalanan karena hal itu bukan solusi tepat.
Pemerintah harus lebih tegas untuk melakukan razia dan pembinaan kepada para gepeng. Kemudian dilatih keterampilan dan diberi modal usaha. Penanaman budaya malu meminta-minta juga harus dilakukan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebijakan Pembentukan Pasar Ambarketawang

kos A36