Urgensi Revitalisasi Pancasila | Harian Jogja | edisi Selasa 8 Oktober 2013



Urgensi Revitalisasi Pancasila
Oleh Oktaviani
Ironi, ketika mendengar bahwa banyak pelajar di Jogjakarta didapati tidak hafal lima butir Pancasila. Padahal Jogjakarta adalah kota pelajar juga identik dengan sejarah perjuangan para pahlawan yang seharusnya mereka lebih paham dan mengerti dengan nilai-nilai Pancasila.. Hafalpun tidak, apalagi paham dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila? Pancasila merupakan pondasi Negara Indonesia. Dengan memperkokoh pemahaman Pancasila maka memperkokoh NKRI juga. Tapi faktanya, para generasi muda mulai melupakan dasar negara tersebut.
Pancasila, mampu membangun keyakinan pada mereka yang mau membuka mata hati dan pikiran sebagai jalan yang benar dan lurus menuju masa depan yang adil dan penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan. Pancasila menjadi acuan atau pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia. Namun belakangan Pancasila tidak lagi dipahami oleh generasi muda. Revitalisasi nilai-nilai Pancasila menjadi sangat penting dan perlu untuk dilakukan menjadi kewajiban kita bersama sebagai upaya menghidupkan kembali Pancasila yang kurang terberdaya.
Revitalisasi Pancasila mendesak karena alasan internal dan eksternal. Secara internal, sejak berlangsungnya masa reformasi, beberapa faktor pemersatu bangsa jelas mengalami kemerosotan dan serbuan globalisasi mengakibatkan memudarnya identitas nasional NKRI. 
Dasar negara, hakikatnya bukan sekedar hafalan, tapi harus dijiwai dan diamalkan bagi generasi muda yang akan mewarisi kepemimpinan bangsa di masa mendatang. Munculnya ketidakadilan sosial dan pertentangan antar golongan. Bahkan belakangan semakin banyak pelajar terlibat tawuran. Hal tersebut disebabkan karena masyarakat, pelajar, pendidik dan pemimpin yang tidak memahami dan mengamalkan Pancasila.
Generasi muda saat ini adalah calon pemimpin bangsa, harus paham norma dan budaya leluhurnya. Namun faktanya generasi muda saat ini lebih gemar mengadopsi budaya luar  negeri yang sangat bertolak belakang dengan budaya bangsa sendiri. Hal tersebut juga tidak lepas dari pengaruh tayangan televisi, kemajuan informasi dan teknologi, sehingga konsentrasi anak menjadi terpecah ke berbagai hal, contoh mudahnya adalah handphone. Benda tersebut sudah menyita sebagian besar waktu pelajar, komunikasi dalam dunia nyata menjadi tidak akrab karena sibuk dengan gadget. Para generasi muda lebih mudah menghafal lagu-lagu pop, baik yang berbahasa Indonesia maupun bahasa asing ketimbang menghafal dan memahami nilaii-nilai Pancasila. Bagi anak muda masa kini, Pancasila hanyalah sekedar bacaan wajib ketika upacara. Setelah itu tidak ada pemahaman bahkan amalan mengenai nilai-nilai luhur tersebut.
Fungsi Pancasila adalah sebagai petunjuk aktivitas hidup di segala bidang yang dilakukan warga negara Indonesia. Aktivitas tersebut harus berlandaskan sila-sila yang terdapat dalam Pancasila. Sila Ketuhanan  YME ini nilai-nilainya meliputi dan menjiwai keempat sila lainnya.
Segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan dan penyelenggaraan negara bahkan moral penyelengga dan warga negara harus dijiwai dengan nilai-nilai Ketuhanan YME.
Nilai Persatuan Indonesia didasari dan dijiwai oleh sila Ketuhanan YME dan Kemanusian Yang Adil dan Beradab. Hal ini terkandung nilai bahwa  nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme religious. Apabila para generasi muda benar-benar memahami dan mengamalkan nilai-nilai tersebut, tidak akan ada lagi tawuran antar pelajar yang memakan korban jiwa dan merusak fasilitas umum seperti yang telah banyak terjadi di negeri ini.
Jika generasi muda juga mampu mengamalkan sila ke empat dan lima, yakni mampu menjunjung tinggi asas musyawarah sebagai moral kemanusiaan yang beradab dan menjunjung keadilan antara warga dengan lainnya secara timbal balik. Apabila hal tersebut diterapkan maka tidak ada manusia yang berani saling menyakiti.
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika menggambarkan realitas bangsa Indonesia yang majemuk namun selalu mencita-citakan persatuan dan kesatuan. Maka sebagai generasi muda sudah wajib dan mutlak harus ikut andil dalam menjaga persatuan bangsa ini. Sekolah dan para orang tua yang berfungsi sebagai pembentuk karakter harus menyadari, filosofi Pancasila menjadi kekuatan bangsa Indonesia. .Jika kelima sila tersebut sudah diamalkan, pembentukan karakter anak akan baik untuk ke depannya dan Indonesia bisa melahirkan para generasi muda yang terampil dalam segala bidang yang tentunya akan didukung oleh sikap yang beradap.

Komentar

  1. bahasanya berat ,,, :D
    mantep non. .. (y) ..
    jangan lupa mampir+komen di blog.q ya... http://ilhamsixx.blogspot.com

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebijakan Pembentukan Pasar Ambarketawang

kos A36